Paint your Dream, you’ll got it.
Pernah dengar wejangan orang bijak, bahwa kita harus hati-hati kalau bicara. Yes.., itu benar. Karena bisa saja apa yang kita ucapkan akan terjadi. Dan apa yang kita pikirkan bisa terwujud. Saya mau sharing buat temen-temen yang suka baca, bahwa itu benar adanya.
So, bagi yang punya mimpi, cita-cita dan harapan, saran saya coba gambarkan mimpi anda dalam pikiran anda. By time and process. Jika kamu bersungguh-sungguh maka apa yang kamu mimpikan akan menjadi kenyataan.
Begini ceritanya.
One day saya punya mimpi ingin pergi ke suatu tempat yang dingin dan sejuk. Pemandangan hijau dan suasananya yang damai. Seperti dipedesaan. I do know hayalan itu selalu hadir sebagai suatu tempat yang sepertinya saya idam-idamkan.
One morning, when I wake up from very nice sleep in Garut, I see many mountain in front of my eyes. I see green dan pepohonannya yang sangat rindang dan indah. I see padi yang hijau menguning terhampar luas dengan suburnya. Saya dengar suara burung dan hewan-hewan hutan saling bersahutan menyambut pagi.
And I see the beautiful sunrise yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Oh, My God saya sangat beruntung sekali berada di tempat ini. Dalam hati saya berbicara, dulu tempat ini hanya bisa saya lihat dari lukisan di dinding rumah Nyai, sewaktu saya kecil di Palembang.
Hari ini, pagi yang indah ini, saya dapat melihatnya langsung. Ternyata tempat dalam lukisan yang pernah saya lihat itu nyata. It’s a real place. This is one of the nicest place, that I ever met. Calincing Bumi nama desanya.
You know, hayalan saya dan kenyataan saya itu berjarak sangat jauh. Berpuluh-puluh tahun. Memang kalau ditulis seakan itu tanpa jarak ya. Big No, It is very long time dari impian saya sampai menjadi kenyataan. Saya harus melewati jalan yang panjang, berkelok, berliku, dan berbatu terjal. Sampai-sampai saya pernah jatuh dan terdampar beberapa waktu. It’s my story. But this time, saya tidak akan ceritakan itu. Saya hanya akan ceritakan tentang how romantic place Calincing Bumi, Garut.
Hari pertama, saya tiba sudah senja. Kami belum langsung ke Calincing Bumi. Kami mampir ke suatu tempat yang indah, named Mulih Ka Desa, di daerah Samarang. I try tempe mendoan, sayur asem, di depan hamparan padi yang hijau dan indah. Oohh, this place is very adem.
Second day, kami menuju Calincing Bumi. Waktu tiba di sana, sudah senja, sehingga saya belum dapat menikmati pemandangan yang indah di sana secara utuh. Very warm welcome from the family, membuat saya merasa betah, meski baru saja tiba. Hehehe (ini siy alay ya).
Then, karena sudah terasa lelah dari perjalanan yang panjang, saya sepertinya memilih mandi dan ingin tidur. Tapi, wow.. airnya dingin sekali. Wuiiih sudah lama aku tidak merasakan air sedingin ini. Hmmm.. Dan blezzzz.. selesai lepas dari dinginnya air di sederatan Gunung Mandalawangi, Buleud, Kaledong dan Haruman yang persis berada di depan saya.
Imagine, saya tidur dengan indah di depan sederetan gunung-gunung itu. Alhamdulilah, segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam yang telah menciptakan alam beserta isinya dengan indah. Beruntungnya saya, bisa diberikan Allah kesempatan untuk menikmati indah ciptaan-Nya.
The third day. I wake up very early. Sampai saya tidak sadar ternyata masih pukul 04.30. Masih gelap sih, namun mulai terdengar suara dahan yang mulai saling bergesekan di antara pepohonan dan suara hewan hutan yang saling bersahutan. Suara yang belum pernah saya dengar sebelumnya.
Terasa sangat menyenangkan. Membuat hati sangat bahagia. Suasananya yang sejuk di pagi ini, membuat tangan saya sudah tak sabar ingin segera menuliskan perasahaan bahagia saya. Yes, I found my book and pen. Mulai saya menulis serangkaian kata-kata indah.
Sebagai pengingat bahwa suatu saat, rangkaian indah ini, akan saya tuliskan Panjang, sebagai kenangan bahwa Calincing Bumi adalah one of nicest place that I ever met. I will always remember this place, in my heart, in my mind and in my soul. Lamunanku dalam tulisan tak terasa telah membawa matahari semakin bergerak bersinar. Early sunrise sudah mulai tiba. Matahari perlahan mulai bersinar dengan indahnya. Ini adalah nyata, bukan mimpi.
In this third day, kami berjalan menelusuri indahnya pemandangan desa ini. Melihat pagi dengan hamparan padi. Melihat para penduduk melakukan aktivitas dengan riang. Senang sekali bisa bertemu dan tersenyum dengan para saudara di sana. Meskipun kami belum bisa bersenda gurau, namun dari senyuman yang terlihat di raut wajah mereka yang ceria, sudah sangat membuat saya bahagia. Indah nya kerukunan masyarakat disini.
Lagi, dalam benak aku berkata, seperti dalam lukisan yang pernah saya lihat dulu sewaktu kecil. Ternyata itu ada. Hamparan padi yang indah, deretan gunung yang hijau dan para ibu dari desa sekitar yang sedang menanam padi itu ada. Lukisan yang pernah saya coba gambarkan dalam buku gambar kecilku, namun tidak pernah berhasil.
Siang itu, meski matahari mulai tinggi, sepertinya suasan hati yang damai dan bahagia menutup semua rasa panas teriknya. Hari ini, terasa sangat teduh, cieee… Makan siang liwetan ala-ala, menambah nikmatnya suasana. Tanpa terasa sore menjelang. waktunya menikmati matahari terbenam. Sunset hunting di belakang deretan gunung menjadi kegiatan sore itu.
Sudah hari keempat saya di Calincing Bumi. Kami harus melanjutkan perjalanan. Namun Calincing Bumi selalu di hati. Dalam hati kami yang dalam.
