Corvet Bersuara Gamelan, Bus Metro Mini Jadi Sasaran

Jadi ingat kejadian 25 tahun lalu. Siang itu adik perempuan satu-satunya minta diantar ke kampus yang ada di Depok. Katanya saat itu ada keperluan di salah satu fakultas di situ. Kampusnya dia sendiri di Bogor.

Saya antar dia dengan menggunakan Toyota Corona keluaran tahun 1973 punya abang. Itu mobil pertamanya yang berhasil dibeli dari hasil banting-banting tulang dan peras-peras keringat. Kondisi mobilnya saat itu sudah sedikit dimodifikasi. Ban donat dan knalpot racing. Kerenlah kata yang punya. Seorang teman kuliah saya sempat memberi nama mobil itu Corvet. Corona Veteran katanya.

Setelah melewati gerbang kampus yang di Depok itu, mulai terdengarlah suara ting tang ting tung seperti gamelan Bali dari arah depan bagian bawah mobil. Spontan saya langsung menepikan Corvet. Saya periksa bagian bawah depannya, kali-kali aja beneran ada alat gamelan tersangkut di situ. Clear. Kolong mobil aman.

Sambil masih penasaran, Corvet saya jalankan lagi. Adik saya kurang penasaran karena tidak tahu permasalahan mobil. Tahunya cuma duduk terus sampai deh. Suara gamelan tidak terdengar lagi. Tapi saya masih kepikiran sama suara itu.

Dalam keadaan mobil bergerak saya tes injak pedal rem. Kali ini yang keluar suara lonceng sekolah. Teng.. teng.. Saya serta merta kaget dan mendadak pucat karena langsung ingat pas jadi anak SD sering kelupaan mengerjakan PR, hehe.. Tapi proses pengereman ada reaksi. Pikiran galau tentang suara-suara gamelan saya terminasi. Karena saya harus buru-buru mengantar adik saya, dan saya juga harus mengejar jadwal kuliah.

Teng.. teng.. kali ini yang berbunyi adalah berakhirnya jadwal kuliah saya. Saya siap-siap menuju Kalibata, Jakarta Selatan. Tiga orang teman kuliah ikut nebeng.

Sepanjang jalan mulai dari Depok, Lenteng Agung sampai persimpangan TB Simatupang, suara gamelan hilang tertelan bumi. Begitu mendekati lampu merah Pasar Minggu, di situlah dimulai babak menegangkan. Corvet tidak mau berhenti saat saya menginjak pedal rem berkali-kali. Saya bergumam pelan, oh.. mungkin ini yang dinamakan rem blong.

Setengah detik kemudian saya bilang sama ketiga temen yang nebeng tadi untuk bersiap-siap menghadapi benturan. Terdengar seorang teman nyeletuk. “Ah, bercanda loe bro…” Setengah detik sisanya saya melihat ada bus Metro Mini berhenti di pinggir jalan sebelum lampu merah. Sempat juga melirik jarum speedo meter yang saat itu berada di angka 50. Secepat kilat Corvet saya arahkan ke bus Metro Mini sebagai media benturan.

Tidak sampai satu detik setelahnya terdengar suara braakk. Moncong Corvet mencium pantat bus Metro Mini yang bumpernya berlapis plat bordes. Kap motor Corvet langsung melipat ke arah atas. Setelah melihat kondisi teman-teman yang berada di dalam mobil dalam kondisi aman, saya langsung keluar mobil. Mesin Corvet masih dalam keadaan hidup, tapi terdengar suara kipas mesin bergesekan dengan radiator.

Orang Indonesia dalam keadaan apapun masih selalu beruntung. Saya dan teman-teman tidak mengalami cidera sedikitpun. Dan kala itu saya beruntung karena salah satu teman yang nebeng itu berbadan kekar. Alhasil dengan kekuatan samsonnya dia bisa menarik dudukan radiator dan dikembalikan ke posisi awal. Kipas mesin tidak bergesekan lagi.

Sopir bus Metro Mini malah kabur karena mungkin merasa bersalah gara-gara bisnya kurang pinggir saat ngetem nunggu penumpang. Sekilas terlihat tidak ada kerusakan yang berarti di bagian bumper belakang bis itu. Saya belum sempat minta maaf sama sopirnya.

Setelah mengucapkan terima kasih atas bantuan mereka, ketiga teman saya pun melanjutkan perjalanan pulang ke rumah masing-masing. Saya juga harus pulang ke rumah di Cimanggis hanya dengan berbekal satu headlamp, yang tiga lagi pecah saat kejadian tadi. Lumayan bisa menerangi jalan raya yang sudah mulai gelap.

Corvet langsung saya kandangin ke bengkel dekat rumah. Sang Montir yang juga sekaligus pemilik enggan untuk menjawab rasa penasaran saya saat itu yang telah mengalami tragedi rem blong. “Besok aja ya.” Katanya. Saya mengiyakan karena saya lihat dia sudah mandi dan wangi.

Keesokan hari masih pagi saya tiba dibengkel. Montir memperlihatkan canvas rem yang bantalannya sudah terkikis habis. Ternyata itu adalah canvas rem Corvet. Terus ada hubungannya kah dengan suara gamelan yang dipersembahkan oleh Corvet sebelum nyium bumper belakang bis Metro Mini? Sambil cengar cengir Montir menjawab iya. Dia juga kasih lihat minyak rem di master sudah lenyap.

Pagi itu Montir langsung memberikan kuliah singkat. Katanya, bila sudah ada gejala bunyi-bunyian yang timbul saat pedal rem diinjak, maka itu adalah hasil gesekan antara plat canvas rem dengan disk break. Dan fenomena itu akan dibarengi dengan habisnya minyak rem lantaran tekanan akibat kerja keras piston kaliper. Saya segera manggut-manggut, supaya kuliah dadakan di bengkel itu cepat selesai.

Yang dapat saya petik dari kejadian ini adalah seorang pengemudi harus mempunyai kepekaan yang tinggi. Semisal saat berkendara mendapati gejala-gejala aneh yang timbul saat berkendara. Segera kunjungi bengkel terdekat. Dan juga biasakan untuk selalu memeriksa kendaraan sebelum memulai perjalanan, semisal cek oli, cek air radiator dan tekanan angin ban. Jangan hanya bisa menjalankan kendaraan, tapi kenali lebih dekat karakter kendaraannya.